Perdana! Menyambangi Negeri Gajah Putih

Perdana! Menyambangi Negeri Gajah Putih

Biasanya saat akan dihadapkan pada pengalaman pertama saya selalu merasa tegang. Jantung berdebar tak karuan, bahkan untuk terlelap pun terasa enggan. Lebih perasaan penasaran akan apa yang menanti saya di perjalanan kali ini.

Dayang Sumbi di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta

Tapi kali ini biasa saja, entahlah. Saya memulai packing jam 12 malam, tertidur dua jam setelahnya, belum sempat bermimpi indah saya sudah harus beranjak dan hanya berkesempatan terpejam tiga jam saja.

Namun baru saja menjejak di negeri yang baru pertama kali saya kunjungi ini saya melakukan kebodohan.

Berdasarkan saran teman saya, saya tidak perlu menukar uang di Indonesia, cukup tarik tunai di ATM destinasi saja. Menurutlah saya pada tuturannya. Entah karena telah melintasi udara selama 3,5 jam penuh guncangan entah karen memang saya tidak pintar berhitung, saya menarik uang sangat banyak. Terlalu banyak.

Mau tahu? Saya menguras isi rekening saya dengan memilih nominal 20.000 Baht! Konyol!

Sementara 5,5 hari kehidupan saya disini akan ditanggung sepenuhnya karena sedang masa training. Saya hanya perlu mempersiapkan biaya untuk 1,5 hari disini. Tapi apalah daya, saya akhirnya harus menggondol lembaran-lembaran Thai Baht ini kemana-mana.

Tentunya, telah dipastikan dengan mutlak, saya menjadi bahan tertawaan teman-teman sepanjang hari. Bahkan mungkin di hari-hari berikutnya yang akan kami lalui bersama.

Bandara Suvarnabhumi, Bangkok (Source: Wikipedia)

 

Transit Di Phayat Thai

Setelah semua bagasi kami lengkap, kami pun beranjak menuju pintu keluar Bandara Suvarnabhumi mengarah ke kanan lalu mengambil eskalator turun untuk menuju BTS.

Masing-masing dari kami membeli koin perjalanan ke Phayat Thai seharga 45 Baht. Para pemilik koin baht bisa membeli di vending machine, sementara saya dan dua orang lainnya yang memiliki pecahan uang kertas dengan nominal besar harus mengantri di loket, untungnya antrian lancar dan tidak terlalu panjang. Tidak menuntut waktu lama untuk menunggu, kami pun melangkah masuk ke BTS dan kereta ini pun melaju.

Sepanjang perjalanan yang saya lihat adalah pemandangan kota yang serupa dengan Jakarta. Gedung-gedung pencakar langit dan pemukiman padat tak beraturan. Yang membedakan disini masih banyak beberapa gedung-gedung tua dengan warna cat cerah, seperti pink, ungu, tosca. Sepertinya gairah warna Thailand bisa dilihat dari branding warna maskapainya, Thai Airway. Serta pada dinding bandara lamanya yang kami lewati, Don Mueang.

Setibanya di Phayat Thai, kami harus keluar dulu untuk berganti jalur BTS menuju Saphan Kwai. Berbeda dengan Bandara Suvarnabhum, antrian tiket BTS disini melingkar!

Saya yang malas mengantri ini akhirnya mencoba bertanya ke loket, ternyata ada kartu BTS semacam e-money yang bisa di top up. Harganya 200 Baht, bernilai 100 Baht dengan biaya kartu 100 Baht. Ya kira-kira sekitar 80.000 Rupiah, tapi lumayan bisa menghemat waktu antrian BTS di kemudian hari.

BTS (Bangkok-Mass Transport System) atau yang biasa dikenal dengan Sky Train (Source: Wikipedia

 

Menuju Saphan Khwai

Dua kali menggunakan BTS, transportasi publik di Bangkok, saya perhatikan penggunanya tidak terlalu banyak. Kalaupun penuh tidak sampai sesak karena berdesakan seperti KRL di Jakarta. Menurut teman saya yang pernah beberapa kali ke Bangkok, BTS digunakan oleh masyarakat menengah keatas, sedangkan kaum-kaum marjinal lebih memilih menggunakan bus.

Jika dirupiahkan satu kali perjalanan BTS mungkin sekitar 10.000-20.000 Rupiah, sedangkan dengan bus tarifnya dibawah 10.000 Rupiah. Meskipun kondisi bus disini tampak sangat tua, namun bus-bus disini tetap disiplin, bus hanya akan mengangkut dan menurunkan penumpang di halte yang telah tersedia, tidak sembarangan dimana saja.

Akhirnya tiba di Saphan Kwai. Dan kami lapar!

Dari pintu keluar BTS kami mengambil jalan ke kiri, kemudian menyusuri trotoar Bangkok hingga menemukan satu rumah makan serupa warteg. Saya langsung menyambar sebotol es markisa yang sangat menyegarkan di teriknya cuaca Bangkok siang ini.

Ikan bakar bumbu pedas, oseng sayur dan acar mangga segar di ‘warteg’ Saphan Khwai, Bangkok

Biaya makan siang saya dengan tiga lauk berporsi banyak, air mineral dan es markisa jumlahnya 95 Baht, sekitar 36.000 Rupiah. Masih relatif terjangkau, kan?

One thought on “Perdana! Menyambangi Negeri Gajah Putih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *