Menelisik Sepotong Andalas

Menelisik Sepotong Andalas

Oleleooooooooo~

It’s been a while to bring me back to write a blog again! Duh.

Ngga a while, sik. Lama banget malah. Bisa dilihat rekam jejak di tahun 2018 hanya hitungan jari, jurnal harian pun minim disinggahi. Sedih, sih. Banyak rangkaian hidup yang seru maupun sendu banyak yang terlewati. Tapi ya sudahlah, yang lalu biarlah lalu. Mari kita merangkul kembali saja sepercik keinginan menoreh kata-kata yang kembali merona.

Baiklah, jadi saat ini saya sedang di salah satu sudut Kota Pekanbaru sambil menyesap segelas minuman racikan Starbucks karena tergoda akan promo Buy One Get One. Mmhehehe.

Setelah melalui perdebatan panjang, serta perencanaan yang kurang matang seperti biasa, akhirnya berkeputusanlah kami untuk menyambangi kampung halaman suami sambil menelisik potongan keindahan Negeri Andalas. Setelah sebelumnya berniat kembali lagi ke Nepal untuk menjajal trek Annapurna Circuit atau Everest Basecamp, tapi ternyata awal tahun kami harus membayar biaya kontrakan untuk setahun ke depan. Tsaaaaaaah! Nasib pasutri baru. Wk.

Lalu rencana perkelanaan kami pun dengan berat hati kami downgrade sedikit ke selatan, menuju Maldives, yang ternyata murah, loh, tiket returnnya sekitar tiga juta per pax. Namun lagi-lagi harus kami urungkan setelah melihat prakiraan cuaca bahwa siklon tropis bergerak ke arah dan akan menerjang Maldives setelah sempat singgah di Thailand.

Baiklah. Akhirnya karena kasihku rindu kampung halaman, akhirnya kami merencakanan untuk pulang kampung ke Dumai, tapi dengan perjalanan darat menyebrangi Selat Sunda, lalu singgah di Way Kambas, kemudian Palembang, kemudian entah singgah dulu dimana. Tapi lagi-lagi, keresahan kembali mencuat paska tragedi erupsi Anak Krakatau yang menyebabkan bencana tsunami di pesisir Tanjung Lesung dan sekitarnya.

Memang tragedi itu bisa menimpa siapa saja dan dimana saja. Tapi semenjak Pak Suami pulang setelah bergabung dengan Emergency Response Team ke Palu selama 40 hari, beliau semakin insekyur dan lebih berhati-hati. Ya, bagus juga, sih. Menyeimbangi saya yang suka sembrono dan berpikir belakangan. :p

Jadilah kami mengambil penerbangan pertama hari ini ke Pekanbaru. Niat hati ingin langsung mengambil travel ke Dumai, tapi dengan randomnya kami memutuskan menginap dulu semalam di Pekanbaru untuk berwisata kuliner ria. Oh, perut, gimana kamu ngga mengembang pesat setelah meniqaaaaa~

Sekian prolognya. Mungkin kamu ngga butuh penjelasan, tapi aku memaksa ingin menjelaskan. Tentang diriku yang rapuh diterjang dilematika kehidupan. Dan semoga saja semesta mendukung untuk konsisten menulis beberapa hari kedepan.

STAY TUNE!

2 thoughts on “Menelisik Sepotong Andalas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *