Jakarta, 6 Agustus 2019

23.10

Aku bekerja dari rumah siang ini. Seharian berkutat di depan layar dan merebah ketika merasa lelah. Terus berulang seperti itu. Hingga petang, lelakiku pulang.

“Ada yang mau ngeliat speaker.” Katanya.

“Akhirnya laku juga.” Jawabku singkat.

Karena dua benda tinggi besar hitam ini telah lama bertengger di sudut rumah mungil kami. Tanpa daya, ataupun upaya untuk diperdengarkan. Saat membeli, ia sangat antusias untuk membangun sebuah studio musik. Namun satu persatu barang studionya mulai dijual, ini barang terakhir yang nampak enggan dia lepas. Tapi aku terus bertanya kapan akan dijual, karena kupikir lumayan kan uangnya untuk tabungan bayi kami.

Sepasang suami istri datang. Aku berdiam di kamar sedari tadi, sambil masih rekat dengan laptopku. Sambil bekerja, sesekali aku aktif di grup whatsapp ibu-ibu jasa titip bazaar buku import di Jogja. Tanpa berniat membeli, seringkali impulsku tak tertahan dan membeli banyak buku anak lucu untuk anakku yang masih dalam kandungan.

Lalu tiba di penghujung hari, semua urusan kami usai. Kami merebahkan diri berdampingan di ranjang. Ia tampak lesu. “Mau makan? Kan belum makan malem.” Tanyaku.

Dia menggeleng. “Engga nafsu. Mau langsung tidur aja.” Raut wajahnya tampak lesu.

“Kenapa? Sedih, ya?” Aku menerka.

Ia hanya mengangguk. Aku merengkuhnya. Mengusap pipinya sambil berbisik, “Sabar, ya.”

Ia tersenyum lirih. Mendadak aku merasakan kesedihannya. Meski tak terlalu dimanfaatkan dengan baik, tapi ia membelinya dengan cintanya pada musik. Dengan mimpinya untuk memiliki studio musiknya sendiri. Tapi kini mimpi yang belim tergapai itu harus ia gadai untuk kehidupan kami.

Aku pun terhenyak. Begitu sulit baginya menggadai kecintaannya hanya untuk ditukar dengan sejumlah angka. Sementara aku begitu mudah menggadai sejumlah angka tersebut untuk buku-buku yang belum terlalu dibutuhkan.

“Daddy..” seruku kemudian dengan nada suara anak kecil.

“Iya, mommy.” Sahutnya.

“It’s not, Mommy. It’s Dede. Thank you Daddy for your sacrifice for me. Dede love Daddy!” Ucapku memperagakan gaya anak kecil.

Ia pun membalikkan badan. Tersenyum tulus dan bahagia, karena niatnya terbaca dengan baik oleh buah hati kami. “Daddy love Dede too.” Balasnya sambil mengecup kening dan mengusap buah hati kami di dalam perutku.

🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *