Selepas Petang

Selepas Petang

Aku menyeret tubuhku ke bawah rintik hujan malam ini.

Meski kutahu hujan belum lama berhenti dan masih menyisakan tetesannya dari langit, tapi aku tetap mengecup kening mungil lelakiku dan berpamitan. dia hanya melirik seraya melihatku menjauh.

Aku tidak benar-benar butuh pergi. aku tidak benar-benar ingin pergi. tetapi aku tetap pergi.

Mungkin kalimat yang kerap sedang kutanam belakangan ini terus terngiang di alam bawah sadarku, “Aku hanya harus terus bergerak, bergerak, meski tak tentu arah, meski tak teratur, teruslah bergerak.”

Atau mungkin aku hanya berdalih, meski kini duniaku berubah nyatanya aku masih tetap meluap-luap dan impulsif seperti dulu.

Aku juga tidak mengerti kenapa aku merekam tentang ini.

Dari 22 hari yang telah berlalu sejak permulaan tahun ini, dari sekian banyak hari-hariku yang bergelora, dari berbagai pelatuk yang susah payah kutarik agar peluru kata-kata segera kembali meluncur dari benakku, aku malah menulis tentang malam ini.

Lagi-lagi mungkin aku hanya kembali pada sifat alamiku – impulsif.

Dan aku hanya bisa bersyukur akan malam ini, karena akhirnya bagian diriku yang telah lama mati suri kembali bangkit untuk menulis. meski entah makna apa yang mengalir dari sini.

 

Bandung, 22 Januari 2020

Ditulis bersama kepulan kuah baso, mie yamin, dan hangatnya teh tawar hangat di bawah langit Kota Bandung yang sedang tak ingin berhenti menangis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *